Minggu, 10 April 2011

Sosiologi Agama

SOSIOLOGI AGAMA






RESENSI




Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dalam Mata Kuliah Teori Ilmu Sosial

dari Prof.Dr.H.Dadang Kahmad,M.Si




Oleh :

AGUS SUBANDI

NIM : 2.210.9.024




UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

KONSENTRASI PAI-K.A

2010


KATA PENGANTAR


Segala puja dan puji milik Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi Muhammad saw. beserta keluarga, para sahabat dan pengikut-pengikutnya yang taat hingga akhir zaman.
Al-hamdulillah, atas karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Resensi Buku “ SOSIOLOGI AGAMA “ karya Prof.Dr.H.Dadang Kahmad,M.Si.

Penulis menyadari, bahwa dalam membuat Resensi Buku, masih kurang sempurna atau tidak memenuhi tujuan yang diinginkan baik oleh Pengarang Buku tersebut maupun Dosen Pemberi tugas Mata Kuliah Teori Ilmu Sosial.
Oleh karena itu, penulis mengharap kritik dan saran yang membangun didalam cara praktis dan enak dinikmati hasil Resensinya, demi tugas-tugas berikutnya dan kesempurnaan didalam Meresensi sebuah Buku.

Tak lupa, atas bimbingan dan bantuan dari semua fihak, hingga terselesaikannya tugas meresensi Buku Sosiologi Agama, penulis ucapkan terima kasih. Semoga amal baiknya mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT.

Akhirnya hanya kepada Allah, penulis serahkan segala upaya yang telah dilakukan dan tetap memohon petunjuk kejalan yang diridlai-Nya. Amin


Karawang, 05 Oktober 2010
Penulis,










ii



DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I FAKTA SOSIAL : Sebuah Pendahuluan
BAB 2 METODE-METODE DALAM SOSIOLOGI
BAB 3 AGAMA DAN RELIGI
BAB 4 TEORI-TEORI SOSIOLOGIS TENTANG ASAL USUL AGAMA
BAB 5 KLASIFIKASI AGAMA-AGAMA
BAB 6 HAKIKAT DAN FUNGSI SOSIOLOGI AGAMA
BAB 7 INTERELASI ANTARA AGAMA DAN MASYARAKAT
BAB 8 INTERELASI ANTARA AGAMA DAN BUDAYA
BAB 9 METODE SOSIOLOGI AGAMA
BAB 10 AGAMA DAN MASYARAKAT
BAB 11 AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
BAB 12 AGAMA SEBAGAI FAKTOR KONFLIK DI MASYARAKAT
BAB 13 AGAMA DAN PELAPISAN SOSIAL
BAB 14 AGAMA SEBAGAI MOTIVATOR TINDAKAN SOSIAL
BAB 15 KERUKUNAN ANTARUMAT BERAGAMA : Kajian Sosiologis
BAB 16 AGAMA DAN MODERNISASI







iii










BAB I

FAKTA SOSIAL :

Sebuah Pengantar


Berawal dari ceritera dalam keluarga tentang kebiasaan diantara anggota keluarganya saat berada di rumah. Sebut saja Suami yang sedang menikmati kehidupan di rumahnya dengan kebiasaan seperti pakaian seadanya. Suatu saat Istrinya memberitahukan, jika nanti akan ada tamu. Respon Suami terhadap tamu yang akan datang dengan keadaan kebiasaan yang beliau lakukan menjadi berubah. Dimana Suami tidak lagi menempatkan posisinya yang misal hanya memakai kaos saja saat berada di rumah, namun sekarang menjadi rapih sambil menunggu kedatangan tamu yang dimaksud.
Perubahan dari kebiasaan saat menyendiri dengan kehadiran orang lain, menjadi ‘ Fakta Sosial’ yang merupakan ‘ konsep dasar’ dari ‘ Sosiologi ‘.
Istilah fakta sosial mulai diperkenalkan oleh Emile Durkheim. Menurutnya, fakta sosial adalah suatu cara bertindak yang tetap atau sementara, yang memiliki kendala dari luar; atau suatu cara bertindak yang umum dalam suatu masyarakat yang terwujud dengan sendirinya sehingga bebas dari manisfestasi individual.
Ada 4 macam fakta sosial menurut Emile Durkheim yaitu :
1. Suatu wujud diluar individu;
2. melakukan hambatan atau membuat kendala terhadap individu;
3. bersifat luas atau umum;
4. bebas dari manifestasi atau melampaui manifestasi individu.
Fakta sosial dijabarkan dalam beberapa gejala sosial yang abstrak, misalnya hukum, adat kebiasaan, norma, bahasa, agama, dan tatanan kehidupan lainnya yang memiliki kekuasaan tertentu untuk memaksa bahwa kekuasaan itu berwujud dalam kehidupan masyarakat di luar kemampuan individu sehingga individu menjadi tidak tampak. Yang dominan dalam hal ini adalah masyarakat.

1
2

Sebagai suatu gejala sosial, fakta sosial berbeda dengan gejala individu. Ia mempunyai tiga karakteristik utama yaitu :
1. Fakta sosial bersifat eksternal terhadap individu.
2. fakta sosial itu memaksa individu.
3. fakta sosial itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam suatu masyarakat.
Fakta sosial harus diteliti di dalam dunia nyata sebagaimana orang mencari sesuatu yang lainnya. Menurut Emile Durkheim ada dua ciri yaitu :
1. Bentuk materiel; yaitu sesuatu yang dapat disimak, ditangkap, dan diobservasi. Fakta sosial yang berbentuk material ini adalah bagian dari dunia nyata. Contohnya, arsitektur dan norma hukum.
2. Bentuk nonmateriel; yaitu sesuatu yang dianggap nyata. Fakta sosial jenis ini merupakan fenomena yang bersifat intersubjektif yang hanya dapat muncul dari dalam kesadaran manusia. Contohnya, egoisme, altruisme, dan opini.
Menurut tipenya, fakta sosial terdiri dari struktur sosial dan pranata sosial. Struktur sosial adalah jaringan hubungan soaial dimana interaksi sosial berproses dan menjadi terorganisir, sehingga dapat dibedakan posisi-posisi sosial dari individu dan subkelompok.
Pranata sosial adalah antarhubungan norma-norma dan nilai-nilai yang mengitari aktivitas manusia, seperti keluarga, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, agama dan ilmu pengetahun.

BAB 2
METODE-METODE DALAM SOSIOLOGI

1. Metode deskriptif. Yaitu suatu metode penelitian tentang dunia empiris yang terjadi pada masa sekarang. Tujuannya, untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akuran mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, dan hbungan antar fenomena yang diselidiki.
2. Metode komparatif. Yaitu sejenis metode deskripsi yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat, dengan menganalisis faktor-
3

faktor penyebab terjadinya atau munculnya suatu fenomena. Jangkauan waktunya adalah masa sekarang. Jika jangkauan waktu terjadinya pada masa lampau, maka penelitian tersebut termasuk dalam metode sejarah.
3. Metode eksperimental. Yaitu suatu metode pengujian terhadap suatu teori yang telah mapan dengan suatu perlakuan baru. Pengujian suatu teori dari ilmuwan yang telah dibuktikan oleh beberapa kali pengujian bisa memperkuat atau memperlemah teori tersebut. Tetapi apabila teori itu ternyata dapat dibuktikan oleh suatu eksperimen baru, maka teori tersebut akan lebih menguat dan mungkin akan mencapai taraf hukum teori.

BAB 3
AGAMA DAN RELIGI

Agama terdiri dari dua suku kata yaitu ‘a’ yang berarti ‘tidak’ dan ‘gama’ artinya ‘kacau’, dari bahasa sansekerta yang artinya ‘tidak kacau’. Yang dimaksud adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau.
Dalam bahasa Inggris disebut ‘religion’ atau ‘religie’ dalam bahasa Belanda. Keduanya berasal dari bahasa Latin ‘religio’, dari akar kata ‘religare’ yang berarti mengikat. Berdasarkan arti ini, ia berpendapat bahwa “ agama adalah keterikatan sekelompok manusia dengan Tuhan atau dewa “.
Dalam bahasa Arab, agama dikenal dengan kata ‘al din’ dan ‘milah’. Kata ‘al din’ mengandung berbagai arti : al mulk (kerajaan), al khidmat (pelayanan), al ‘izz (kejayaan), al dzull (kehinaan), al Ikrah (pemaksaan), al Ihsan (kebajikan), al aadat (kebiasaan), al Ibaadat (pengabdian), al qahr wa alsulthoon (kekuasaan dan pemerintahan), al tadzallul wa alkhudhuu’ (tunduk dan patuh), al thoo’at (taat), al Islaam al tauhied (penyerahan dan mengesakan Tuhan).
Dalam pengertian sosiologi “ agama adalah gejala sosial yang umum dan dimiliki oleh seluruh masyarakat yang ada di dunia ini, tanpa kecuali. Ia merupakan salah satu aspek dalam kehidupan sosial dan bagian dari sistem sosial suatu masyarakat.

4

Dari sudut kategori pemahaman manusia, agama mempunyai dua segi yaitu :
1. Kejiwaan (psychological state), yaitu suatu kondisi subjektif atau kondisi dalam jiwa manusia, berkenaan dengan apa yang dirasakan oleh penganut agama. Emile Durkheim menyebut kondisi tersebut dengan ‘Religious Emotion’ (emosi keagamaan).
2. Segi objektif (objective state), yaitu segi luar yang disebut juga kejadian objektif, dimensi empiris dari agama. Segi ini dapat dipelajari apa adanya melalui metode ilmu sosial.
Definisi agama menurut para ahli dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Sebagian besar ilmuwan membatasi pengertian agama dalam bentuk yang hanya bisa diterapkan pada agama-agama Samawi yang masih otentik saja, yakni agama-agama yang berdasarkan wahyu dari langit, yaitu agama-agama tauhid yang didasarkan pada keyakinan tentang adanya Tuhan Yang Maha Pencipta, Maha Mengadakan, Pemberi petunjuk, dan Pemelihara segala sesuatu, serta hanya kepada-Nya dikembalikan segala urusan.
2. sebagai kebalikan dari gambaran tentang agama seperti tersebut di atas, mereka diantaranya para sosiolog dan arkeolog menyisihkan ide tentang Tuhan Yang Maha Pencipta. Mereka beralasan bahwa setiap agama klasik di Timur, seperti Budha, Jainisme, dan Kong Fu Cu, semata-mata didasarkan pada etika, tidak memuat unsur ketuhanan dan ibadah.
Menurut mazhab ilmu sosial Perancis, ide tentang adanya Tuhan atau roh-roh bukan ciri khas kehidupan keagamaan. Durkheim beranggapan bahwa masyarakat adalah sumber gambaran keagamaan. Dari sanalah timbul pantangan dan tabu. Masyarakat juga sumber kultus dan penuhanan. Mazhab ini melontarkan gagasan-gagasan sebagai berikut :
1. Tidak ada sekelompok manusia pun yang tidak mempunyai suatu gambaran yang tegas mengenai asal-usul manusia, kemana perginya, apa sebab keberadaannya, ataupun asal-usul alam semesta.




5

2. Gambaran yang ditempuh mazhab Perancis didasarkan pada pembagian wujud menjadi dunia suci dan dunia nyata. Namun, definisi seperti ini ternyata tidak memuat ciri-ciri suatu definisi yang lengkap. Definisi seperti itu berarti memasukkan pula unsur sihir ke dalam agama, karena landasan magic sama dengan landasan agama, yaitu sama-sama membagi wujud menjadi yang sakral dan yang tidak sakral.

BAB 4
TEORI-TEORI SOSIOLOGIS TENTANG ASAL USUL AGAMA

1. Teori Jiwa
Para penganut teori ini berpendapat, agama yang paling awal bersamaan dengan pertama kali manusia mengetahui bahwa di dunia ini tidak hanya dihuni oleh makhluk materi, tetapi juga oleh makhluk immateri yang disebut jiwa (anima). Pendapat ini dipelopori oleh Edward Burnet Taylor (1832-1917). Bukunya yang terkenal “ The Primitif Culture (1872) “ yang mengenalkan teori animisme, ia mengatakan bahwa asal mula agama bersamaan dengan munculnya kesadaran manusia akan adanya roh atau jiwa.
Tingkat yang paling dasar dari evolusi agama adalah ketika manusia percaya bahwa makhluk-makhluk halus itulah yang menempati alam sekeliling tempat tinggal manusia. Karena mereka bertubuh halus, manusia tidak bisa menangkap dengan pancainderanya. Makhluk halus itu mampu berbuat berbagai hal yang tidak dapat diperbuat oleh manusia. Berdasarkan kepercayaan semacam itu, makhluk halus menjadi objek penghormatan dan penyembahan manusia dengan berbagai upacara keagamaan berupa doa, sesajen, atau korban. Kepercayaan seperti itulah yang oleh E.B Taylor disebut ‘Animisme’.
2. Teori Batas Akal
3. Teori Krisis dalam Hidup Individu
4. Teori Kekuatan Luar Biasa
5. Teori Sentimen Kemasyarakatan
6. Teori Wahyu Tuhan
6

BAB 5
KLASIFIKASI AGAMA-AGAMA

Dalam kajian teologis, para agamawan mengatakan ada dua katagori asal usul agama yang dianut oleh manusia yaitu :
1. Agama kebudayaan (culture religion), disebut juga agama thabi’i atau agama ardhi, yaitu agama yang bukan berasal dari Tuhan dengan jalan diwahyukan, melainkan agama yang ada karena hasil proses antropologis, yang terbentuk dari adat istiadat dan melembaga dalam bentuk agama formal.
2. Agama Samawi atau agama wahyu (revealed religion), yaitu agama yang dipercayai diwahyukan Tuhan melalui malaikat-Nya kepada utusan-Nya yang dipilih dari manusia.
Dalam kajian keilmuan (scientific aproach), para ilmuwan membedakan agama menjadi dua kelompok besar yaitu Spiritualisme dan Materialisme.
1. Spiritualisme
Adalah agama penyembah sesuatu (zat) yang gaib yang tidak tampak secara lahiriah, sesuatu yang tidak dapat dilihat dan tidak berbentuk. Spiritualisme ini terbagi dalam beberapa kelompok yaitu :
a. Agama ketuhanan (theistic religion), yaitu agama yang para penganutnya menyembah Tuhan (theos). Agama ini mempunyai keyakinan bahwa Tuhan adalah tempat manusia menaruh kepercayaan, dan kecintaan kepada-Nya merupakan kebahagiaan. Yang masuk katagori ini yaitu :
1) Monoteisme, yaitu bentuk religi / agama yang berdasarkan kepada kepercayaan terhadap satu Tuhan dan yang terdiri dari upacara-upacara guna memuja Tuhan tadi.
2) Politeisme, yaitu bentuk religi yang didasarkan pada kepercayaan akan adanya banyak Tuhan yang memiliki tradisi upacara keagamaan guna memuja Tuhan-tuhan tadi.
b. Agama penyembah ruh, yaitu kepercayaan orang primitif kepada roh nenek moyang, roh pemimpin, atau roh para pahlawan yang telah meninggal. Yang termasuk kategori ini adalah :
7

1) Animisme, yaitu bentuk agama yang mendasarkan diri pada kepercayaan bahwa disekeliling tempat tinggal manusia itu diam berbagai macam roh yang berkuasa dan terdiri atas aktivitas pemujaan.
2) Praanimisme (dinamisme) adalah bentuk agama yang berdasarkan kepercayaan terhadap kekuatan sakti yang ada dalam segala hal. Ada tiga bentuk penyembahan kekuatan alam yaitu :
a) Penyembahan terhadap gejala alam, seperti hujan, guntur, gempa bumi, dan topan.
b) Penyembahan terhadap anasir-anasir alam, seperti tanah, air, api, angin, dan udara,
c) Penyembahan kepada benda-benda alam sekeliling, dalam bentuk :
(1) Animatisme, yaitu suatu kepercayaan bahwa benda-benda dan tumbuh-tumbuhan di sekitar manusia itu berjiwa dan bisa berfikir seperti manusia.
(2) Fetishme, yaitu suatu bentuk agama yang berdasarkan kepercayaan akan adanya jiwa dalam benda-benda alam tertentu dan mempunyai aktivitas keagamaan guna memuja benda-benda berjiwa tadi.
(3) Agama penyembah binatang (animal worship), yaitu kepercayaan orang-orang kuno dan orang-orang primitif yang menganggap binatang-binatang tertentu memiliki jiwa kesucian.
2. Agama Materialisme
Agama materialisme adalah agama yang mendasarkan kepercayaannya terhadap adanya Tuhan yang dilambangkan dalam wujud benda-benda material, seperti patung-patung manusia, binatang dan berhala-berhala atau sesuatu yang dibangun dan dibuat untuk disembah.




8

BAB 6
HAKIKAT DAN FUNGSI SOSIOLOGI AGAMA

Menurut pandangan sosiolog, agama yang terwujud dalam kehidupan masyarakat adalah fakta sosial. Sebagai suatu fakta sosial, agama dipelajari oleh sosiolog dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Disiplin ilmu yang dipergunakan oleh sosiolog dalam mempelajari masyarakat beragama itu disebut sosiologi agama. Sosiologi agama adalah suatu cabang ilmu yang otonom, muncul setelah abad ke 19. Pada prinsipnya, ilmu ini sama dengan sosiologi umum, sedangkan sosiologi agama membicarakan salah satu aspek dari berbagai fenomena sosial, yaitu agama dalam perwujudan sosial.
Sosiologi agama memusatkan perhatiannya terutama untuk memahami makna yang diberikan oleh suatu masyarakat kepada sistem agamanya sendiri, dan berbagai hubungan antaragama dengan struktur sosial lainnya, juga dengan berbagai aspek budaya yang bukan agama.
Para ahli sosiologi agama memandang agama sebagai suatu pengertian yang luas dan universal, dari sudut pandang sosial dan tidak melulu membicarakan suatu agama yang diteliti oleh para penganut agama tertentu, tetapi semua agama dan disemua daerah di dunia tanpa memihak dan memilah-milah. Pengkajiannya bukan diarahkan kepada bagaimana cara seseorang beragama, melainkan diarahkan kepada kehidupan agama secara kolektif terutama dipusatkan kepada fungsi agama dalam mengembangkan atau menghambat kelangsungan hidup dan pemeliharaan kelompok-kelompok masyarakat. Perhatiannya juga ditujukan pada agama sebagai salah satu aspek dari tingkah laku kelompok dan kepada peranan yang dimainkannya selama berabad-abad hingga sekarang.





9

BAB 7
INTERELASI ANTARA AGAMA DAN MASYARAKAT

Dalam perspektif sosiologis, agama dipandang sebagai sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam perilaku sosial tertentu. Ia berkaitan dengan pengalaman manusia, baik sebagai individu maupun kelompok. Sehingga, setiap perilaku yang diperankannya akan terkait dengan sitem keyakinan dari ajaran agama yang dianutnya. Perilaku individu dan sosial digerakkan oleh kekuatan dari dalam yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama yang menginternalisasi sebelumnya. Karena itu, Wach lebih jauh beranggapan bahwa keagamaan yang bersifat subjektif, dapat diobjektifkan dalam pelbagai macam ungkapan, dan ungkapan-ungkapan tersebut mempunyai struktur tertentu yang dapat dipahami.
Ada lima dimensi beragama menurut C.Y Glock dan R. Stark yaitu :
1. dimensi keyakinan;
2. dimensi praktik agama;
3. dimensi pengalaman keagamaan;
4. dimensi pengetahuan agama;
5. dimensi konsekuensi.
Hubungan interdipendensi antara agama dan masyarakat, menurut Wach menunjukkan adanya pengaruh timbal balik antara kedua faktor tersebut yaitu :
1. pengaruh agama terhadap masyarakat, seperti yang terlihat dalam pembentukan, pengembangan, dan penentuan kelompok keagamaan spesifik yang baru.
2. pengaruh masyarakat terhadap agama. Wach memusatkan perhatiannya pada faktor-faktor sosial yang memberikan nuansa dan keragaman perasaan dan sikap keagamaan yang terdapat dalam suatu lingkungan atau kelompok sosial tertentu.
Seseorang yang menganut agama akan merefleksi dalam bentuk kehidupan masyarakat melalui ekspresi tepritis, ekpresi praktis, dan dalam persekutuan. Begitu pula faktor-faktor sosial dan nilai-nilai kultural lokal memberikan nuansa keragaman perasaan dan sikap keagamaan bagi individu yang terdapat dalam lingkungan sosial tertentu.

10

Jika salah satu bagian dalam sistem sosial itu berubah, maka bagian lain mereorganisasi, agar timbul keseimbangan dalam masyarakat. Dan jika lingkungan sosial ekonomi berubah, maka agama mengadakan penyesuaian atau bahkan sebaliknya. Berdasarkan hal itu, muncul dugaan hipotesis bahwa perilaku pemeluk agama tarekat di perkotaan berbeda dengan di pedesaan disebabkan oleh adanya penyesuaian dengan lingkungan sosial masing-masing.

BAB 8
INTERELASI AGAMA DAN BUDAYA

Manusia, masyarakat, dan kebudayaan berhubungan secara dialektik. Ketiganya berdampingan dan berimpit saling menciptakan dan meniadakan. Yang diibaratkan seperti dalam permainan ‘gamsut’.
Satu sisi manusia menciptakan sejumlah nilai bagi masyarakatnya, pada sisi yang lain, secara bersamaan, manusia secara kodrati senantiasa berhadapan dan berada dalam masyarakatnya, homosocius. Masyarakat telah ada sebelum seorang individu dilahirkan dan masih akan ada sesudah individu mati. Lebih dari itu, di dalam masyarakatlah dan sebagai hasil proses sosial, individu menjadi sebuah pribadi; ia memperoleh dan berpegang pada suatu indentitas. Manusia tidak akan eksis bila terpisah dari masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat diciptakan oleh manusia, sedangkan manusia sendiri merupakan produk dari masyarakat. Kedua hal itu menggambarkan adanya dialektika inheren dari fenomena masyarakat. Inilah yang dimaksud dengan dialektika sosial.
Dalam kehidupan berbudaya, manusia melakukan proses objektivasi. Proses objektivikasi ini, menurut Miller, melibatkan hubungan antar subjek, kebudayaan, sebagai bentuk eksternal, dan artefak, sebagai objek ciptaan manusia. Dalam kaitan ini, subjek mengeksternalisasikan dirinya melalui penciptaan objek-objek, yang dimaksudkan untuk menciptakan ‘diferensiasi’, kemudian menginternalisasikan nilai-nilai ciptaan tersebut melalui proses sublasi atau pemberian pengakuan.


11

Akan tetapi, dalam proses sublasi ini, sang subjek selalu merasa tidak puas dengan hasil ciptaannya sendiri karena ia selalu membandingkan hasil ciptaan tersebut dengan pengetahuan atau nilai absolut, yang justru beranjak lebih jauh tatkala ia didekati diacu. Sehingga yang kemudian terjadi adalah rasa ketidakpuasan tanpa akhir serta penciptaan terus menerus untuk pemenuhannya. Rasa ketidakpuasan abadi terhadap hasil ciptaan inilah yang membangkitkan motivasi daya yang tak habis-habisnya bagi pengembangan lebih lanjut dalam suatu dialektika penciptaan (termasuk agama dalam kontek budaya).
Teori sosial pada awalnya bersifat historis dan komparatif. Objek analisanya berupa kasus tertentu, seperti telaah Weber mengenai birokrasi Jerman atau tulisan Marx tentang kapitalisme Inggris. Dalam sudut teori ini, memahami suatu masyarakat berarti memahami perbedaannya dengan berbagai bentuk kehidupan dimasa-masa dan tempat yang berbeda.
Weber menekankan bahwa tujuan akhir dari “pemahaman interpretatif” atas tindakan sosial adalah untuk sampai pada “penjelasan kausal mengenai berbagai peristiwa beserta akibatnya”. Kadang-kadang ungkapannya, “suatu telaah menyeluruh semacam itu memaksa sang analisis untuk keluar dari semua parameter yang berdasarkan penghayatan atau pengamatan yang disadari”.
Sebagai pemahaman interpretatif, realitas dan tindakan sosial dianggap sebagai “teks” sebagaimana layaknya kegiatan penafsiran. Teks yang dimaksud berarti apa yang “dikatakan” dan apa yang “dilakukan” oleh tindakan sosial.
Pada akhirnya, pengetahuan kita tentang dunia setempat (native) memang selalu bergantung pada pengetahuan yang lebih luas. Bahkan, suatu uraian yang paling partikularistik sekalipun akan mengandung corak pengetahuan komparatif itu. Sebaliknya, teori sosial selalu mengalami pembaruan melalui aplikasinya dalam waktu dan tempat-tempat tertentu. Yang membuat usaha kita menjadi suatu disiplin adalah saling mengisi dan keterikatan terus-menerus antara teori umum dan penelitian lokal.




12

BAB 9
METODE SOSIOLOGI AGAMA

Ada dua pendekatan penting dalam penelitian agama, yaitu :
1. Pendekatan teologis, yakni pendekatan kewahyuan atau pendekatan keyakinan peneliti sendiri. Pendekatan ini biasanya dilakukan dalam penelitian terhadap suatu agama untuk kepentingan agama yang diyakini si peneliti, atau penelitian terhadap suatu agama oleh pemeluk agama itu sendiri untuk menambah pembenaran keyakinan terhadap agama yang dipeluknya itu.
2. Pendekatan keilmuan, yaitu pendekatan yang memakai metodologi ilmiah, penelitian yang memakai aturan-aturan yang lazim dalam penelitian keilmuan. Pendekatan ini memakai metodologi tertentu yang diakui kebenarannya oleh dunia keilmuan, sistematis atau runtut dalam cara kerjanya, empiris yang diambil dari dunia nyata bukan dari pemikiran atau angan-angan.
Ada dua bidang keilmuan yang digunakan dalam penelitian agama, yaitu :
1. bidang ilmu budaya. Bidang keilmuan ini menekankan pada pencarian informasi substansi objek penelitian, tidak terikat oleh model metodologi yang baku dan ketat sebagaimana dalam bidang ilmu alam.
2. bidang ilmu sosial. Bidang ilmu ini adalah penelitian ilmiah yang mempunyai aturan-aturan yang lazim, yang harus diikuti oleh setiap peneliti. Yang menjadi objek penelitian agama dengan memakai pendekatan ilmu sosial ini adalah keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam masyarakat pemeluk agama, yang merupakan akibat dari terjadinya proses interaksi diantara anggota masyarakat, atau antara kelompok dalam suatu masyarakat beragama atau antara suatu masyarakat beragama dengan masyarakat beragama yang lain, baik sebagai proses masyarakat maupun keadaan statis masyarakat tertentu. Sebelum penelitian, harus dirumuskan terlebih dahulu metodologi apa yang akan digunakan dalam penelitian suatu objek penelitian. Langkah penentuan masalah, pencarian konsep-konsep, perumusan hipotesis, pencarian data ke lapangan serta kesimpulan yang diambil merupakan rangkaian sistem yang harus dilalui sebagai suatu disiplin dalam perjalanan penelitian yang dikerjakan.
13

Ada beberapa contoh penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan sosial, yaitu:
1. Sosiologis, yakni pendekatan tentang interelasi dari agama dan masyarakat serta bentuk-bentuk interaksi yang terjadi antar mereka. Tokohnya, Emile Durkheim. Diantara hasil karyanya ditulis dalam buku, Sucide (1912), kemudian buku The Elementary Forms of The Religious Life (1959).
2. Antropologis, yaitu pendekatan kebudayaan; agama dipandang sebagai bagian dari kebudayaan, baik dalam wujud idea maupun gagasan dianggap sebagai suatu sistem norma dan nilai yang dimiliki oleh anggota masyarakat, yang mengikat seluruh anggota masyarakat. Tokohnya, Max Muller, W. Mannhardit, E.B. Taylor. Karya E.B. Taylor ditulis dalam buku, The Primitive Culture.
3. Psikologis, yaitu studi ilmiah mengenai agama ditinjau dari perspektif psikologis. Tokohnya, Sigmund Freud. Hasil karya ditulis dalam buku berjudul Totem und Tabu (1912).
4. Historis atau pendekatan kesejarahan. Tokohnya, Wilhelm Schmidt. Hasil karyanya di tulis dalam buku yang berjudul Ursprung der Gottesidee (1912 dan 1954).
5. Fenomenologis, yaitu pendekatan yang menggunakan perbandingan sebagai sarana interpretasi yang utama untuk memahami arti dari kepsresi-ekspresi keagamaan.
Adapun wilayah kajian Sosiologi Agama, meliputi :
1. Perwujudan agama di kepulauan Indonesia
2. Penelitian mengenai berbagai kepercayaan
3. Penelitian mengenai pranata keagamaan
4. Penelitian mengenai organisasi-organisasi yang berhubungan dengan suatu agama
5. Penelitian mengenai berbagai peranan dalam keagamaan
6. Penelitian mengenai agama dan pelapisan sosial
7. Penelitian mengenai agama dan masyarakat daerah
8. Penelitian mengenai agama dan golongan sosial
9. Penelitian mengenai gerakan keagamaan
10.Penelitian mengenai perasaan dan pengalaman keagamaan
11.Penelitian mengenai agama sebagai motivasi untuk bertindak
12.Penelitian mengenai peranan agama dalam perubahan sosial
13.Penelitian mengenai agama sebagai faktor integrasi masyarakat
14

14. Penelitian mengenai agama sebagai faktor pemisah dan pertentangan di
masyarakat
15. Penelitian mengenai masalah hubungan antarpemeluk agama atau antarkelompok
Keagamaan
Adapun tujuan penelitian sosiologi agama adalah untuk memperoleh gambaran (deskripsi) mengenai kemungkinan ya ng terjadi akibat kegiatan atau keputusan pejabat pemerintah atau pejabat agama. Atau akibat rencana pembangunan yang menyebabkan perubahan di masyarakat beragama.
Mengenai karakteristik metode penelitian sosiologi agama, yaitu :
1. agama adalah fenomena yang terjadi dalam subjek manusia serta terungkapkan dalam tanda dan simbol. Oleh karena itu, perlu kecermatan dari peneliti untuk bisa memilah dan mengkatagorikan mana simbol dan tanda yang masuk sistem kepercayaan, mana tanda dan simbol yang masuk upacara keagamaan, dan apakah fenomena tertentu dikatagorikan suatu gejala keagamaan atau gejala yang lain.
2. fakta religius bersifat subjektif.
3. pemahaman makna fenomena agama diperoleh melalui pemahaman ungkapan-ungkapan keagamaan.
4. pemahaman suatu fenomena religius meliputi empati terhadap pengalaman, pemikiran, emosi, dan ide-ide orang yang memeluk suatu agama.
5. fakta-fakta keagamaan adalah fakta psikis dan spiritual.
Adapun data dalam penelitian sosiologi agama yang dibutuhkan oleh peneliti :
1. Data macam apa yang dibutuhkan dalam penelitian tersebut.
2. dimana dan dari mana data tersebut dapat diperoleh.
3. bagaimana cara memperoleh data-data tersebut.
4. berapa banyak data yang dibutuhkan sehingga data itu dianggap mencukupi sebagai
Sebuah bukti atau barang bukti untuk pemecahan masalah.
Untuk sumber data dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. sumber data lapangan;
2. sumber data dokumenter.
Kemudian jenis data yang dipergunakan dapat berupa data secunder dan data primer.

15

BAB 10
AGAMA DAN MASYARAKAT

Agama memberi makna pada kehidupan individu dan kelompok, juga memberi harapan tentang kelanggengan hidup sesudah mati. Agama dapat menjadi sarana manusia untuk mengangkat diri dari kehidupan duniawi yang penuh penderitaan, mencapai kemandirian spiritual. Agama memperkuat kelompok-kelompok, sanksi moral untuk perbuatan perorangan, dan menjadi dasar persamaan tujuan serta nilai-nilai yang menjadi landasan keseimbangan masyarakat.
Agama berperan dalam tiga kawasan kehidupan manusia :
1. kawasan yang kebutuhan manusiawi dapat dipenuhi dengan kekuatan manusia sendiri.
2. kawasan manusia yang merasa aman secara moral. Tingkah laku dan tata pergaulan manusia diatur lewat norma-norma rasional yang dibenarkan agama, seperti norma sopan santun, norma hukum serta aturan-aturan dalam masyarakat.
3. merupakan daerah yang manusia secara total mengalami ketidakmampuannya.
Agama tidak lain adalah proyeksi masyarakat sendiri dalam kesadaran manusia. Selama masyarakat masih berlangsung, agama pun akan tetap lestari. Masyarakat, bagimanapun akan tetap menghasilkan simbol-simbol pengertian diri kolektifnya; dan dengan demikian, menciptakan agama.
Masyarakat diikat oleh sistem simbol yang umum. Sistem simbol itu akan berpusat pada martabat manusia sebagai pribadi, kesejahteraan umum, dan norma-norma etik yang selaras dengan karakteristik masyarakat itu sendiri. Setiap masyarakat dalam proses menghayati cita-citanya yang tertinggi akan menumbuhkan kebaktian pada representasi diri simboliknya.





16

BAB 11
AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT

Agama merupakan suatu hal yang dijadikan sandaran penganutnya ketika terjadi hal-hal yang berada di luar jangkauan dan kemampuannya karena sifatnya yang supra natural, sehingga diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah yang empiris.
Selanjutnya, golongan masyarakat dapat diartikan sebagai penggolongan anggota-anggota masyarakat kedalam suatu kelompok yang mempunyai karakteristik yang sama atau dianggap sejenis. Misalnya :
1. penggolongan berdasarkan jenis kelamin, pria dan wanita;
2. penggolongan berdasarkan usia, tua atau muda;
3. penggolongan berdasarkan pendidikan, cendekian atau buta huruf;
4. penggolongan berdasarkan pekerjaan, pegawai atau bukan pegawai.
Pengaruh agama terhadap masyarakat dapat dipelajari melalui kebudayaan, sistem sosial dan kepribadian. Ketiga aspek itu merupakan fenomena sosial yang komplek dan terpadu yang pengaruhnya dapat diamati pada perilaku manusia.
Nottingham membagi kedalam tiga tipe yaitu :
1. Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sakral.
2. Masyarakat praindustri yang sedang berkembang.










17

BAB 12
AGAMA SEBAGAI FAKTOR KONFLIK DI MASYARAKAT

Agama dalam satu sisi dipandang sebagai sumber moral dan nilai, dan pada sisi lain sebagai sumber konflik. Masalahnya pemeluk agama kadang menampakkan wajah ganda.
Mungkin sebagai bentuk solidaritas sosial, maka hampir semua pemeluk agama akan berinteraksi dan berpandangan sama (untuk sementara) dalam menyikapi misalnya sebuah musibah.
Ketika masing-masing pemeluk akan menampakkan jatidiri sebagai pemeluk yang terbaik, akan berusaha agar pemeluk agama lain mengikuti millahnya, maka konflik antar agama akan diciptakan atau dibuat ada masalah (hanya untuk mengukur respons yang sebenarnya tidak tega melakukannya sebagai hati nurani sesama manusia : bila benar).


BAB 13
AGAMA DAN PELAPISAN SOSIAL

Agama dan pelapisan sosial adalah dua hal yang berbeda. Walaupun demikian, membicarakan keduanya dalam satu bahasan atau topik, tetap akan mempunyai aspek-aspek positif dalam kajian akademis, bahkan lebih jauh bisa menemukan hal-hal yang baru dalam bidang keagamaan. Pernyataan ini tidak lepas dari anggapan, bahwa agama dan masyarakat, dalam pengertian lapisan sosial; diduga sebagai dua unsur yang saling mempengaruhi satu sama lain.





18

Dalam pernyataan tersebut agama difahami sebagai sebuah sestem kepercayaan, sedangkan lapisan sosial sebagai strata orang-orang yang berkedudukan sama dalam kontinum status sosial. Ada enam klasifikasi, yaitu :
1. upper-upper class;
2. lower upper class;
3. upper middle class;
4. lower middle class;
5. upper lower class;
6. lower-lower class.

BAB 14
AGAMA SEBAGAI MOTIVATOR TINDAKAN SOSIAL

Masalah agama merupakan masalah sosial, tetapi penghayatannya amat bersifat individual. Apa yang difahami dan apa yang dihayati sebagai agama oleh seseorang, sangat bergantung pada latar belakang dan kepribadiannya. Hal ini membuat adanya perbedaan tekanan penghayatan dari satu orang ke orang lain, dan membuat agama menjadi bagian yang amat mendalam dari kepribadian atau privacy seseorang.
Oleh karena itu, agama senantiasa bersangkutan dengan kepekaan emosional. Meskipun demikian, masih terdapat kemungkinan untuk membicarakan agama sebagai suatu yang umum dan objektif.










19

BAB 15
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA : Kajian Sosiologis terhadap Pluralisme Agama di Indonesia

Islam adalah agama rahmatan lil’aalamiin. Dengan keyakinan bahwa keberadaan Islam mesti membuat nyaman berada di depan, di tengah, bersama atau dibelakang agama-agama lain. Persoalannya adalah kekuatan mana yang akan menang sebagai penguasa atau pemegang amanah pembawa agama Islam, bila umat lain masih belum senang melihat kemajuan umat Islam bahkan akan berupaya untuk menciptakan Islam agar terus terkesan lemah dimata agama-agama lain, maka sulit menerapkan kerukunan. Jikapun ada hanya kepura-puraan.
Sebenarnya konsep yang telah dijelaskan dalam ajaran Islam tentang sikap umat Islam terhadap agama lain berkenaan dengan urusan agamanya adalah “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Kemudian dijelaskan lagi “ Tidak ada paksaan dalam masuk Islam’. Bahkan Rasulullah saw pun menjadi contoh dalam mengejawantahkan kerukunan dengan tidak memaksa agama kepada Pamannya Abu Thalib, yang berbeda agama. Itu berarti siapa yang akan dibuat repot dengan toleransi, apakah Islam harus melayani atau dilayani atau biarkan saja sesuai dengan Sunnatullah.












20

BAB 16
AGAMA DAN MODERNISASI

Aspek yang paling spektakuler dari modernisasi adalah pergantian teknik produksi, yaitu dari teknik produksi yang bertumpu pada penggunaan “energi nyawa” ke energi tak bernyawa. Dalam perkembangannya proses pergantian teknik produksi hanya merupakan salah satu aspek dari proses modernisasi.
Dalam bidang ekonomi, modernisasi berarti tumbuhnya kompleks-kompleks industri besar, tempat barang konsumsi dan produksi diadakan secara massal. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan atas pengaturan organisasi-organisasi sosial yang lebih rumit dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi orang atau kelompok orang dalam hal produksi, distribusi, dan konsumsi.
Ekonomi modern serupa itu menuntut adanya suatu masyarakat nasional yang memungkinkan terciptanya ketertiban dan ketenteraman sehingga menjamin lalu-lintas barang, orang, dan informasi. Sejalan dengan kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi, mobilitas sosial dan ruang dari masyarakat semakin tinggi. Dalam konteks inilah, sistem nilai dan kepercayaan masyarakat mengenai dunia mengalami perubahan sehingga terjadi proses sekularisasi dan memudarnya fungsi agama, termasuk Islam.










KESIMPULAN DAN TANGGAPAN PENULIS

Makna Toleransi dalam Kehidupan Beragama dan bermasyarakat

Membicarakan Agama berarti menjelaskan dan memahami keberadaan Agama-agama yang berlaku dan diakui secara umum baik yang berlaku pada suatu bangsa tertentu atau bangsa-bangsa lain yang dijadikan Agama resmi.
Bila tokoh Agama yang berbicara, maka pembicaraannya akan mewakili Agama yang dipeluknya dan Agama-agama lain yang sedang diperbincangkan. Itu berarti harus ada titik persamaan yang dapat dijadikan pola fikir dan acuan didalam membahas sesuatu persoalan yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan secara menyeluruh.
Dalam pandangan Islam, ketika akan membahas terhadap peribadatan atau kehidupan Agama selain Islam, maka konsep dasarnya adalah “Toleransi”. Karena Islam yang sedang membicarakan, maka dasar berpijaknyapun adalah kalam Allah dan Sunnatur Rasul. Dan keterangan-keterangan lain baik yang pernah diamalkan oleh Sahabat maupun Tabi’in, bahkan Tabiut Tabi’in. Atau generasi baru yang dapat diterima dan telah teruji konsep-konsepnya serta agama yang sedang dibicarakan menerimanya.
Pemeluk Islam tidak akan salah, ketika menyatakan bahwa agama yang paling benar adalah Islam. Adakah akan luntur pembicaraannya saat berhadapan dengan agama lain ?
Bila pemeluk agama lain yang memahami ajaran Islam, maka tidak akan komentar disebabkan ada konsep ‘toleransi’. Itu berarti kedatangan toleransi diwujudkan dengan amaliah keseharian oleh pemeluk agama selain Islam yang telah memahami makna ‘toleransi’.
Bagi umat Islam sendiri tanpa harus menjual konsep ‘toleransi’, menjadi tidak berpengaruh dengan konsep dasar yang telah diajarkan oleh Allah sesuai firman-Nya (Q.S 109 : 6). Apakah agama lain akan bertoleransi atau tidak. Artinya keadaan pemeluk Islam tanpa harus berpura-pura untuk menghormati dan harus dihormati oleh agama lain, maka kehidupan akan tetap berjalan.


Misalnya, saat akan berangkat menuju Masjid atau ke Mejelis Ta’lim, yang jalan menuju ke arah tempat tersebut sedang diadakan kebaktian, maka bukan berarti akan menghentikan kegiatannya lantaran ada yang sedang beribadah cara mereka ? Begitu pula sebaliknya, mereka yang sedang beribadah lalu menghentikan acaranya, lantaran memberi kesempatan pada umat Islam yang akan shalat Jum’at atau I’dain.

3 komentar: